Koordinasi tim Kesehatan dengan pihak sekolah di Kota Prabumulih, 9 November 2023.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, dr. H. Trisnawarman,M.Kes, SpKKLP (Dokter Tris) melalui Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi dan Kasi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga bersama tim bidang kesehatan turun ke lokasi tempat terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) Keracunan Pangan di Sekolah Islam Terpadu Ishlahul Ummah Kota Prabumulih pada tanggal 9 sampai dengan 10 November 2023 dengan jumlah kasus sebanyak 146 orang.

Dugaan sementara penyebab dari keracunan pangan adalah bakteri Vibrio parahaemolitikus yang mencemari pangan dalam hal ini adalah kue sus, hal ini didasarkan pada gejala yang dialami serta masa inkubasi yang muncul pertama kali yaitu 2 jam 15 menit. Kasus telah mendapat perawatan di 3 rumah sakit yaitu RSUD Prabumulih sebanyak 52 orang, RS AR Bunda sebanyak 80 orang dan RS Pertamina Prabumulih sebanyak 14 orang. Sampai dilakukan kunjungan lapangan terdapat 37 orang yang masih dilakukan perawatan inap di 3 rumah sakit tersebut yaitu 4 orang di RSUD Prabumulih, 19 orang di RS AR Bunda Prabumulih dan 14 orang di RS Pertamina Prabumulih (data
per 10 November 2023).

Kasus terbanyak terjadi pada siswa sekolah dasar yaitu sebesar 64% dari total kasus yang ada yaitu pada kelompok umur 6 – 11 tahun. Status perawatan kasus 75% rawat jalan sedangkan 25% menjalani rawat inap karena gejala yang cukup berat yaitu muntah dengan frekuensi yang banyak serta diare yang terus menerus. Attack Rate ( angka serangan ) terbesar terjadi pada kelompok umur 12 – 14 tahun yaitu sebesar 24.42 per 100 orang serta pada jenis kelamin perempuan yaitu sebesar 17.57 per 100 orang. Berdasarkan tempat lokasi sekolah di jalan Sadewa Kelurahan Karang Raja dengan AR sebesar 15.79 per 100 orang.

Dugaan bahan pangan yang menjadi penyebab keracunan adalah kue sus, karena sebagian besar yang mengkonsumsi kue sus mengalami gejala dan kue sus terasa asam menurut pengakuan sebagian besar siswa. Penyebab terjadinya kerusakan pangan dikarenakan waktu memasak yang cukup Panjang sampai pangan tersebut dikonsumsi yaitu sekitar 19 jam dengan bahan baku susu dan telur. Akan tetapi pengolahan dilakukan secara bertahap sehingga yang diolah terakhir kali tidak mengalami perubahan rasa yaitu manis tidak seperti pada sebagian siswa yang mengeluhkan vla nya terasa asam.

Tempat penyimpanan dan pengolahan bahan pangan yang tidak hygienis juga diperkirakan menjadi penyebab adanya kontaminasi. Penjamah makanan belum pernah mendapat sosialisasi dan pelatihan tentang hygiene sanitasi pangan yang baik. Pengelola masih menggunakan kantong plastic berwarna untuk menyimpan bahan baku.

Dokter Tris memberikan arahan kepada Petugas surveilans diharapkan tetap melakukan surveilans ketat untuk memastikan tidak ada penambahan kasus sampai 2 kali masa inkubasi. Dalam hal ini masa inkubasi terpanjang adalah 10 jam maka jika tidak ditemukan kasus baru pada waktu 20 jam dari kasus terakhir, KLB keracunan pangan dapat dinyatakan berakhir juga melakukan pemantauan terhadap kasus yang masih dalam perawatan di rumah sakit. Petugas kesehatan lingkungan (sanitarian) melakukan inventaris RT atau usaha yang melakukan penyediaan bahan pangan untuk dikonsumsi masyarakat untuk kemudian dilakukan pembinaan tentang Hygiene Sanitasi pangan yang baik, tidak lupa menyarankan kepada pihak catering sekolah agar melakukan perbaikan mulai dari tempat penyimpanan, tenaga pengolah makanan, tempat penyajian serta kebersihan lingkungan serta menyarankan kepada pihak catering sekolah untuk melakukan pelatihan kepada penjamah makanan karena catering menyediakan makanan yang cukup banyak setiap harinya dengan jumlah penjamah yang hanya 10 orang termasuk juga mendistribusikan ke sekolah-sekolah yang berada di dua Gedung yang berbeda alamatnya, melakukan perawatan dan pembersihan pengolahan air water serta pencucian secara berkala gallon yang digunakan untuk menyimpan air minum hasil olahan mesin filtrasi  water yang dimiliki pihak sekolah, menyarankan kepada pihak catering untuk mengurus izin jasa boga sesegera mungkin sehingga dapat segera mendapatkan izin dan pembinaan.